KARYA SENI LUKIS BIBIT WALUYA PADA PAMERAN TEMACULTUUR=TANDUR DI BENTARA BUDAYA JAKARTA TAHUN 2012

Main Article Content

Findha Dwi Laila Firdausi

Abstract

Artikel ini menjelaskan latar belakang konsep berkesenian Bibit Waluya yang cenderung mengangkat konsep peristiwa dalam aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Istilah cultuur dalam bahasa Belanda berasal dari kata mengelola atau mengolah tanah (bercocok tanam), merupakan sebuah konsep dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Bibit Waluya melakukan pendekatan terhadap suatu kebudayaan sebagai tema pameran tunggalnya serta dalam konsep karya-karya lukisnya. Dilihat dari tema dan konsep yang telah diusung oleh Bibit Waluya, karya lukisnya memunculkan aktivitas masyarakat dari berbagai kalangan seperti petani, pedagang, pejabat, budayawan dan sebagainya. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat menjaga serta melestarikan budaya Jawa berdasarkan atas gagasan tentang pesan moral yang diungkapkan oleh Bibit Waluya dalam karya lukisnya. Pembahasan mengenai estetika seni lukis karya Bibit Waluya  menggunakan pendekatan teori Monroe Beardsley tentang kesatuan (unity), kerumitan (complexity), dan kesungguhan (intensity). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Bibit Waluya telah menjadikan identitas budaya Jawa sebagai tema yang diusung dalam pameran tunggalnya. Kemudian Bibit Waluya telah mengolah rupa wayang beber menjadi bentuk wayang beber yang menjadi khas dalam lukisannya yaitu dengan proporsi realis. Selain itu juga mempunyai karakter dalam bentuk garis yaitu teknik sunggingnya serta mengangkat konsep yang berhubungan dengan budaya Jawa dalam karya-karya lukisnya. Kata kunci : seni lukis, Bibit Waluya, cultuur=tandur

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section
Articles