GAGASAN ALUSAN DALAM PENCIPTAAN KERAJINAN EMBAN DI KABUPATEN JEPARA

Mohammad Ubaidul Izza

Abstract


ABSTRAK

Subtansi tulisan ini membahas gagasan alusan dalam produk kerajinan emban di kabupaten Jepara. Predikat alusan digunakan oleh para perajin dalam menjustifikasi kualitas produk emban yang prima atau “sempurnaâ€. Hadirnya alusan sebagai fenomena artistik, mengisyaratkan adanya persoalan gagasan yang mendorong penciptaannya. Sehubungan dengan persoalan itu, digunakan konsep ‘kesadaran kolektif’ dalam paradigma Ethnoart guna menggali kesadaran atau cara pandang para perajin emban perihal penciptaan emban alusan. Adapun operasionalnya memanfaatkan metode etnografi ala James Spardley, yang berfokus pada observasi dan teknik wawancara dengan para narasumber. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui terdapat tiga aspek yang membentuk cara pandang perajin emban di Jepara, yaitu: aspek ketersediaan bahan, aspek ketrampilan, dan aspek perwujudan emban. Analisis terhadap ketiga aspek ini menunjukan bahwa terdapat tiga gagasan yang melatarbelakangi perajin menciptakan emban secara alusan, yakni: gagasan pemberdayaan bidang keahlian, gagasan memenuhi kepuasan konsumen, dan gagasan kepentingan komersial.
Kata kunci : Gagasan, Alusan, Kerajinan Emban, Cincin


ABSTRACT

Substance this writing is an idea alusan, in emban crafts of Jepara Regency. Term alusan was used by craftsmen in order to justify super fine and perfect product quality. The existence alusan as artistic phenomena, signs there is an idea problem that supporting creation. Regarding this, the using concept “collective awareness†in ethnoart paradigm to dig awareness or perspective of craftsmen about emban alusan creation. The operational utilizes ethnography method by James Spardley, which focuses on observation and technical interview to interviewees. Based on research that has done, it is known that there are three aspects shape perspective emban’s artist in Jepara. There are availability of material, skill, and emban’s embodiment. Analysis toward three aspects shown that there are three ideas behinds craftsmen creates emban by alusan. There are idea empowerment expertise’s, the idea meets customer satisfaction, and commercial interest.
Key words : Idea, Alusan, Emban Craft, Ring


Full Text:

PDF

References


Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2003. “Ethnoart Fenomenologi Seni untuk Indiginasi Seni†dalam Jurnal Dewaruci Vol. 1, No. 3, April 2003: 343-367. Surakarta: STSI Press.

. 2005. “Ethnoart Fenomenologi Seni untuk Indiginasi Seni,†dalam Waridi dan Bambang Murtiyoso (editor). Seni Pertunjukan Indonesia: Menimbang Pendekatan Emik Nusantara. Surakarta: STSI Press.

Geertz, Clifford. 1983. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Terj. Aswab Mahasin. Jakarta: Djaya Pirusa.

Guntur. 2005. Keramik Kasongan: Konteks Sosial dan Kultur Perubahan. Yogyakarta: Bina Citra Pustaka.

Gustami, SP. “Seni Kriya Indonesia: Dilema Pembinaan dan Pengembangannya†dalam Seni: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni No.1/03 Oktober 1991. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

_______. 2007. Butir-Butir Mutiara Estetika Timur: Ide Dasar Penciptaan Seni Kriya Indonesia. Yogyakarta: Prasista.

Hauser, Arnold. 1974. Sociology of Art. Terj. Kenneth J. Northcott. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Moeliono, M. Anton. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Setyati, Dwi. 1986. “Analisis Kadar Nikel dan Tembaga dalam Logam Monel Perdagangan†dalam Laporan Penelitian. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Soedarsono, R.M. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Spardley, P. James. 1997. Metode Etnografi. Terj. Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara wacana.

Sumardjo, Jacob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB.

Prawiroatmodjo, S. 1993. Bausastra Jawa – Indonesia jilid II edisi ke 2. Jakarta: Haji Masagung.

Van Niel, Robert. 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia. Jakarta: Pustaka Java.

Waridi dan Bambang Murtiyoso (editor). 2005. Seni Pertunjukan Indonesia: Menimbang Pendekatan Emik Nusantara. Surakarta: STSI Press.

Widihantoro, Didik. 2006. “Keberadaan Seni Kerajinan Monel Di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jeparaâ€. Skripsi. Surakarta: Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.

Zoetmulder, P.J. dan S.O Robson. 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Terj. Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia.

Narasumber:

Imtihan (72 tahun), perajin senior emban alusan di desa Kriyan.

Rochim (72 tahun) Pimpinan Seni Sakti Monel Grup, di desa Kriyan.

Abdul Choliq (72 Tahun), Pimpinan Adhesi Monel, di desa Krasak.

Abu Bakar (61 tahun), perajin emban di desa Robayan.

Soleh (55 tahun), perajin senior emban alusan di desa BanyuPutih.

Ali (55 tahun), perajin emban alusan di desa Robayan.

Rohmad (54 tahun), pengusaha emban di desa Kriyan.

Mulyono (50 tahun), perajin emban alusan di desa BanyuPutih.

Wafi (23 tahun), generasi perajin emban alusan di desa BanyuPutih.




DOI: https://doi.org/10.33153/ornamen.v15i1.2473

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Mohammad Ubaidul Izza

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Ornamen
ISSN 1693-7724 (print)  | 2685-614X (online)

indexed by: