Estetika pola tiga: Konsep musikal talempong renjeang dan dinamika keagamaan di Minangkabau

Authors

  • Andar Indra Sastra Institut Seni Indonesia Padangpanjang

DOI:

https://doi.org/10.33153/dewaruci.v14i1.2535

Keywords:

estetika pola tiga, konsep musikal, talempong renjeang, dianamka kegamaan, Minangkabau

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas estetika pola tiga yang menjadi ciri khas dalam penyajian talempong renjeang (renjeng atau tenteng). Estetika pola tiga dalam konsep musikal talempong renjeang dibentuk oleh 3 (tiga) pasangan talempong, dan masing disebut sebagai talempong Jantan, talempong Paningkah, dan talempong Pangawinan. Dinamika kehidupan beragama di Minangkabau ditandai konflik antara kaum sufi dan paham modern. Konflik tersebut bermula dari tarekat Syattariyah dan tarekat Naqsyabandiah yang mempersoalkan konsep wildathul wujud dan wildathul suhud. Masuknya pengaruh wahabi, konflik  konflik menyulut perang suadara, dan dalam catatan sejarah kemudian lebih dikenal dengan perang padri – secara fisik berkahir pada perjanjian Bukik Marapalam. Perjanjian Bukik Marapalam – momerandum of understanding – melahirkan sebuah konsensus untuk menciptakan perdamaian di antara mereka yang berbeda paham. Konflik tersebut kemudian melahirkan konsep tali tigo sapilin, tungku nan tigo sajarangan (tali tiga sepilin, tunggku yang tiga sejarangan) – keharmonisan. Metode yang digunakan berbasis data kualitatif dan diperoleh melalui  observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Analisis data fokus pada talempong renjeang sebagai satu sistem musikal dan dinamika kehidupan bergama dalam masyarakat Minangkabau yang bermula dari perbedaan paham keagamaan antara tarekat Syattariyah dan tarekat Naqsyabandiyah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa talempong sebagai sistem musikal sejalan dengan dinamika keagamaaan masyarakat Minangkabau.   ABSTRACTThis article is intended to discuss the aesthetics of three-patterned talempong which its characteristic is in the presentation of ranjeang talempong (renjeng or tenteng). Aesthetics of three-patterned talempong in ranjeang talempong musical concept are formed by 3 (three) pairs of talempong. Each of them called as Jantan talempong, Paningkah talempong, and Pangawinan talempong. The dynamics of religious life in Minangkabau is marked by conflict between Sufis and modern Islamic concept. The conflict begins when Syattariyah “tarekat” and Nasqsyabbandiah ”tarekat” question the concept of wildatul wujud and wildathul suhud. The influence of conflict induced by the Wahhabi has sparked off a civil war, that in the historical record has been known as Paderi war – and that was physically ended in an Agreement of Marapalam Hill. This agreement spawned a consensus to bring peace among those who have different understandings. This conflict has spawned one concept of tali tigo  sapilin, tungku tigo sajarangan (unity in diversity, three pillars of leadership) - harmony. Method used builds upon the qualitative data obtained through observation, interviews, documentation, and data analysis. Data analysis are focused on renjeang talempong as a musical system and the dynamics of religious life in Minangkabau society that began with diffrent religious understanding between Syattariyah :tarekat” and Nasqsyabandiah “tarekat”. The result of this study is talempong as a musical system that is in accordance with the dynamics of relegious of Minangkabau society.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adam, Boestanuel Arifin. 1986/1987. “Talempong Musik Tradisional Minangkabau”. Laporan Penelitian. ASKI Padangpanjang.

Ahimsa-Putra, Heddy Sri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.

Bakker, Anton. 1995. Kosmologi dan Ekologi: Filsafat Tentang Kosmos Sebagai Rumah Tangga Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Capra, Fritjof. 2000. The Tao of Fhysic: an exploraton of the parallels between modern physics and eastem mysticism. Shambala Publication. Boston. Terjemahan Ilhamal Havidz. 2005. The Tao of Fhysic: Mengungkap Kesejajaran Fisika Modern dan Mistisisme Timur. Yogyakarta: Jalasutra.

Daya, Burhanuddin. 1990. Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Tawalib. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.

Diah K, F. Xaveria. 2008. ”Simponi No. 40 Bagian Pertama Wolfgang Amadeus Mozart”. Resital Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan. Vol 9 (No. 2): 94-97.

Dobbin, Christine. Islamic Revivalisme in a Changing Peasant Economi: Central Sumatra, 1784 – 1847. Terjemahan Lillian D Tedjasudana. 1992. Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah. Jakarta: Innis.

Gibb, H.A.R. 1947. Modern Trends in Islam. Chicago: The University f Chicago Press. Terjemahan Machum Husein. 1995. Aliran-aliran Modern Dalam Islam. Jakarta: Raja Graafindo.

Guntur. 2007. Metodologi Penciptaan Seni. Surakarta: Institut Seni Indonesia (ISI) Press.

Kuntowijoyo. 1987. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: P.T. Tiara Wacana.

Mansoer. M.D., dkk. 1970. Sejarah Minangkabau. Djakarta: Bratara.

Noer, Deliar. 1996. Gerakan Modern Islam Di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: LP3ES.

Said, Usman. 1981. Pengantar Ilmu Tasauf. Medan: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Sumatera Utara.

Simuh. 1995. Sufisme Jawa; Transformasi Tasauf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya.

Sumardjo, Yakob. 2010. Estetika Pradoks. STSI Bandung: Penerbit Sunan Ambu Press.

Suryadi. 1995/1996. Dialektika Adat Dan Agama Dalam Sastra Lisan Minangkabau. Horison Majalah Sastra dan Budaya. Desember –April 1995/1996. Halaman 21. Jakarta.

Weber, Max. 1981. Seven Theories of Human Society. Clarendon Press. Oxford University Press. Terjemahan F Budi Hardiman. 1994. “Teori Tindakan”, dalam Tujuh Teori Sosial, Sketsa, Penilaian, dan Perbandingan. Yogyakarta: Kanisius.

Yunus, Umar. 1990. Kebudayaan Minangkabau: Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Jakarta: Jambatan.

Informan:

Dt. Sampono (58 th). Wiraswasta, Tuo telempong Nagari Pitalah Bungo Tanjuang Luhak Tanah Data.

Hajizar, (56 th). Magister Seni, Pengamat seni, Pengajar Program Seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

Gindo Putiah. (48 th). Ahli Madia, Pengkarya, Pengamat Seni, Alumni ASKI Padangpanjang.

Downloads

Published

2019-07-17

Issue

Section

Articles