Manifestations of beliefs in mystical (“tuah”) plants within the repertoires and practice of Javanese karawitan
Main Article Content
Abstract
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish in Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License (CC BY-SA 4.0) that allows others to share (copy and redistribute the material in any medium or format) and adapt (remix, transform, and build upon the material) the work for any purpose, even commercially with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
References
[1] T. A. Haryati, “Kosmologi Jawa Sebagai Landasan Filosofis Etika Lingkungan,” Religia, vol. 20, no. 2, pp. 174–189, 2017, doi: 10.28918/religia.v20i2.1026
[2] P. Widhianningrum, “Kosmologi Borobudur: Menggali Kebijaksanaan Tata Kelola Bisnis Masyarakat Jawa Kuno Borobudur Cosmology: To Explore Business Governance Wisdom in Ancient Java Society,” Borobudur , vol. XVI, no. 2, pp. 115–130, 2022. doi: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v16i2.291
[3] R. P. Suyono, Capt., Dunia Mistik Orang Jawa: Roh, Ritual, Benda Magis. Yogyakarta: LKIS, 2007.
[4] S. Nurlaili M and A. Hikmawati, “Motif Batik Tradisional Surakarta Tinjauan Makna Filosofis dan Nilai-nilai Islam,” Al-Ulum, vol. 18, no. 2, pp. 365–385, 2018, doi: 10.30603/au.v18i2.499.
[5] B. Vebrianto, B. Sulanjari, and Sunarya, “Makna dan Fungsi Penamaan Dhapur Keris yang Mengandung Nama Tokoh dan Pusaka Wayang Purwa,” Jisabda, vol. 3, no. no 1, pp. 11–21, 2021. doi: 10.26877/jisabda.v3i1.9355
[6] I. Tjahyadi, S. Andayani, and H. Wafa, Pengantar Teori dan Metode Penelitian Budaya. 2020.
[7] B. Briando, M. A. Embi, I. Triyuwono, and G. Irianto, “Tuah Sebagai Sarana Pengembangan Etika Pengelola Keuangan Negara,” J. Akunt. Multi Paradig., vol. 11, no. 2, pp. 227–245, 2020, doi: 10.21776/ub.jamal.2020.11.2.14.
[8] I. M. A. Brahman, “Korelasi Ajaran Cadu Sakti dan Catur Yoga,” Vidya Samhita, vol. III, no. 2, pp. 9–25, 2017.
[9] A. Kurniawan, “Ini Pengertian Keramat Menurut Ibnu Athaillah,” NU Online.
[10] N. Kolis, “Sangkan Paraning Dumadi Eksplorasi Sufistik Konsep Mengenal Diri dalam Pustaka Islam Jawa,” Dialogia J. Stud. Islam dan Sos., vol. 17 no.1, pp. 1–20, 2017. doi: 10.21154/dialogia.v17i1.1653
[11] S. Endraswara, Agama Jawa, Ajaran, Amalan, dan Asal-usul Kejawen, Third. Yogyakarta: Penerbit Narasi - Lembu Jawa, 2015.
[12] A. H. Triyogo, Benda-benda Bertuah Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Narasi, 2005.
[13] S. S. Nur Fahima, A. Hayati, and H. Zayadi, “Ethnobotanical Study of Tamarind (Tamarindus indica L.) in Lebakrejo Village, Purwodadi District, Pasuruan Regency,” Berk. Ilm. Biol., vol. 13, no. 1, pp. 24–33, 2022, doi: 10.22146/bib.v13i1.4073.
[14] Fitria, A. Hayati, and H. Zayadi, “Etnobotani Delima (Punica granatum L) di Desa Gulbung Kecamatan Pangarengan Kabupaten Sampang Madura,” Iosaintropis, vol. 3 No.3, no. Lingkungan Hidup dan Konsep di Masyarakat Manusia, 2018.
[15] A. M. Orchita Putri, I. Yunitasari, M. L. Laasiliyah, R. N. Sari, and A. Z. Kamalia, “Kajian Etnobotani Tradisi Temu Manten pada Pernikahan Adat Masyarakat Jawa di Daerah Dungus Madiun,” in Proceeding of Integrative Science Education Seminar, Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2022, pp. 157–166.
[16] Y. Happynes Teffu, R. Suwandi, and N. Nurjanah, “Komponen Kimia dan Bioaktif Akar Bahar Gorgonian (Genus Rumphella dan Hicksonella) dari Pulau Raijua-Nusa Tenggara Timur,” J. Pengolah. Has. Perikan. Indones., vol. 18, no. 1, pp. 83–97, 2015, doi: 10.17844/jphpi.2015.18.1.83.
[17] R. Maghfirah, Ismawan, and C. Zuriana, “Kerajinan Akar Bahar Di Desa Pulau Balai Kecamatan Pulau Banyak,” J. Ilm. Mhs. Progr. Stud. Pendidik. Seni Drama, Tari dan Musik Fak. Kegur. dan Ilmu Pendidik. Univ. Syiah Kuala, vol. V, no. 2, pp. 94–105, 2020.
[18] B. Suharyono, “Wreksa Warangka Studi Tentang Kayu Sebagai Bahan Sarungan Warangka Keris di Surakarta,” J. Seni Rupa ISI Surakarta, vol. Vol.5 No.1, pp. 22–33, 2008.
[19] F. . S. Cokrohamijoyo, A. Rohkyatmo, E. Sunaryo, Sutandyo, and Sunarto, “Kumpulan Beberapa Gendhing Karawitan Jawa,” vol. 1. Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, pp. 1–328, 1986.
[20] R. Supanggah, Bothekan Karawitan I, Pertama. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), 2002.
[21] Fia and T. Editor, “Tanaman Sri Rejeki Menurut Feng Shui, Pembawa Kelimpahan dan Kemakmuran,” Kumparan.
[22] Sumunar, Ratna, Siwi, Estiasih, and Teti, “Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Sebagai Bahan Pangan Mengandung Senyawa Bioaktif : Kajian Pustaka,” J. Pangan dan Agroindustri Vol., vol. 3, no. 1, pp. 108–112, 2015.
[23] C. E. Putri and A. Rofiq, “Analisis Makna Pada Bait-bait Gending Seblang Olehsari Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi (Kajian Semiotika Riffatere),” Tarbiyatuna, vol. 3, no. 1, pp. 97–116, 2022. doi: 10.30739/tarbiyatuna.v3i1.1682
[24] I. Sayekti, “Lunggadhung: Deskripsi Tugas Akhir Karya Seni,” Institut Seni Indonesia Surakarta, 2016.
[25] Guntur, “Makna Simbolik Motif Hias Alas-Alasan Dalam Ritual ‘Tingalan Jumenengan’ Dan Perkawinan Di Keraton Surakarta,” Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2009.
[26] M. K. Rohman and A. Kurniawan, “Mitos Tanaman Andong Merah sebagai Penolak Bala, Begini Penjelasannya,” Merdeka.com.
[27] K. M. S. Susilamadya, “Gendhing-gendhing Sekaten Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.” Manuskrip Pribadi, Yogyakarta, 2012.
[28] I. . P. Sunjata, Tashadi, and S. R. Astuti, Makna Simbolik Tumbuh-tumbuhan dan Bangunan Kraton Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra, First. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995.
[29] A. K. Sintya, A. Hendriyanto, and Z. K. Mabruri, “Makna Simbolik Isi Sesajen Pada Ritual Suguh Sesaji dalam Kesenian Jaranan Pegon Kyai Menggung di Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari,” repository.stkippacitan, pp. 1–10, 2025, doi: ht10.55681/nusra.v6i1.3479
[30] R. N. Pradjapangrawit, Wedhapradangga, First. Surakarta: STSI Surakarta & The Ford Foundation Jakarta, 1990.