SENI LUKIS INDONESIA Problem Refleksivitas Dalam Pemikiran Filsafat Post-ModernismeTerhadap Masyarakat Multikultural

Authors

  • Dharsono - ISI Surakarta

DOI:

https://doi.org/10.33153/dewaruci.v7i2.999

Abstract

Perjalanan seni lukis sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu, sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conseptual art): “Instalasi Artâ€, dan “Performance Artâ€, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi†sebagai mode 1996/97. Bersama itu pula seni lukis konvensi dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi. Seniman dihadapkan dalam dua pilihan: pertama, tetap sebagai seniman idealis yang mencoba mempertahankan nilai, dengan mempertahankan seni sebagai terapi batin, sehingga mampu menjadi monometalitas zaman, seni senafas dengan zamannya, seni sebagai satu potret kehidupan. Kedua, masuk dalam blantika seni lukis Indonsia, yang cukup menggiurkan. Apabila  seniman modern mencoba menceritakan dirinya lewat  ekspresi pribadinya, dengan mengungkapkan atau mengekspresikan  pengalaman estetiknya dalam simbol-simbol ekspresi yang penuh realitas makna. Maka paradigma seni dalam fenomena kini  (kontemporer) menawarkan berbagai gagasan yang ia racik dalam multi media, multi-idea dan bahkan multi tafsir, menghasilkan  realitas wacana Kata kunci: pencarian identitas, dekontruksi dan sentuhan tradisi

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2016-01-29

Issue

Section

Articles