IMPLIKATUR DAN DAYA PRAGMATIK DALAM SENI PERTUNJUKAN

Authors

  • Sutarno Haryono Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta

DOI:

https://doi.org/10.33153/grt.v16i2.2361

Abstract

Abstrak Pertuturan antara manusia yang satu dengan yang lain, memerlukan daya pragmatik atau paling tidak kekuatan dialog yang sama memiliki budaya yang sama. Pemahaman implikatur akan lebih mudah jika penutur dan mitra tutur telah berbagi pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan tentang konteks tuturan yang melingkupi ujaran atau kalimat- kalimat yang disampaikan oleh penutur. Mitra tutur sulit untuk memahami dan menangkap maksud penutur yang terimplikasikan atau tersirat dari tuturan penutur, jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang dunia di sekitarnya. Interpretasi dalam memahami kalimat ataupembicaraanharus memiliki kesamaan makna, apa yang dibicarakan diperlukan latar belakang budaya yang tidak berbeda. Dengan demikian akan terjadi komunikasi implikatur yang sama dan tidak akan terjadi interpretasi yang berbeda serta pembicaraan akan terjalin dengan baik.Kata kunci: Pertuturan, Implikatur, Daya Pragmatik, dan Budaya. Abstract The speech that takes place between people requires pragmatic force, or at least an equal dialogic force and a similar culture. The understanding of implicature becomes easier if the speaker and interlocutor have a shared experience –experienceand knowledge about the context which surrounds the speech or sentences uttered by the speaker. The interlocutor will have difficulty understanding or grasping the implicit meaning contained in the speaker’s utterance if he does not have a similar knowledge or experience of the world around him. In order to interpret or understand a sentence or utterance, the interlocutor must have a similar understanding of what is being said as well as a similar cultural background. In this way, the communication will have the same implicature and there will be no difference in interpretation, thus ensuring a conversa- tion with a good interaction.Keywords: Speech, Implicature, Pragmatic Force, and Culture.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Grice H.P. 1975. “Logic and Conversationâ€. Syntax and Semantics, Speech Act. 3, New York: Academic Press.

Gunarwan, Asim., 2004. “Pragmatik, Budaya, dan Pengajaran Bahasaâ€

Makalah Seminar Nasional Semantik III, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 28 Agustus 2004.

Hamid Hasan Lubis, H.A. 1991. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Kunjana Rahardi. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip- prinsip Pragmatik. Terj. M.D.D. Oka. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press).

Sam Mukhtar Chaniago, Mukti U.S., dan Maidar Arsyad. 1997. Pragmatik. Uni- versitas Terbuka.

Rohmadi Muhammad. 2004. Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media.

Searle, J.R. 1969. Speech Act. Cambridge: Cambridge University Press.

Sperber, dan. Wilson 1974, Rethinking Sym- bolism. Cambridge: Cambridge Uni- versity Press.

Syukur Ibrahim, Abd. 1993. Kajian: Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional.

Supomo Pudjosudarmo, 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa, Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa.

Yan Huang dalam Munro, Thomas. 2007. Estetika Timur. Diterjemahkan oleh Heribertus B. Sutopo. Surakarta: Alumni Seni Rupa UNS.

Yule, George. (1996). Pragmatics. Diterjemahkan oleh Indah Fajar Wahyuni dan diterbitkan pada tahun 2006, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Downloads

Published

2019-01-28

Issue

Section

Articles