KESENIAN RAKSASA DALAM UPACARA BERSIH DESA DI DESA SALAMREJO KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN BLITAR

Main Article Content

Rifa Fitriana

Abstract

Abstrak Kesenian Raksasa adalah kesenian rakyat yang disajikan dalam upacara bersih desa sejak tahun 2005. Kesenian Raksasa ada karena kepercayaan masyarakat Desa Salamrejo mengenai kehadiran Eyang Genderuwo Senin sebagi danyang penunggu desa. Kesenian ini dipertunjukan dalam bentuk arak-arakan dan memakai kostum butho. Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan pendekatanetnokoreologi dengan metode etnografi tari yang ditulis secara deskriptif analisis. Hasil penelitian ini dapat diperoleh gambaran bahwa kesenian Raksasa dalam upacara bersih desa, memiliki arti sebagai sarana penyempurna dari upacara bersih desa. Bagi masyarakat desa Salam rejo hingga sekarang percaya bahwa upacara bersih desa dengan menyajikan kesenian Raksasa, desa mereka dapat terlindungi dari segala musibah dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.Kata kunci: Raksasa, upacara, bentuk dan fungsi. Abstract Raksasa is a folk art that has been performed in village cleansing rituals since 2005. The art of Raksasa exists because of the belief of the Salamrejo village community in the presence of Eyang Genderuwo Senin, a spirit (danyang)who guards the village. The performance takes the form of a procession and uses the costume of an ogre or butho. The research is qualitative, using an ethnochoreological approach with an ethnographical dance method, and is written in the form of a descriptive analysis. From the results of the research it can be seen that the art of Raksasa in village cleansing ceremonies is significant as a medium for perfecting the ceremony. The commu- nity in Salamrejo still believes that holding a village cleansing ceremony with a performance of Raksasa will protect them from all kinds of disaster and help improve the economic situation of the community.Keywords: Raksasa, ceremony, form, and function.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section
Articles

References

Geertz, Cifford. 2014. Agama Jawa Abangan, Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

Herusatoto, Budiono. 2008. Simbolisme jawa. Yogyakarta: Ombak. Humardani, S. D.

Pemikiran dan Kritiknya. Surakarta: STSI Press.

Langer, K. Suzanne. 1988. Problematika Seni. Terj. F. X. Widaryanto. Bandung: Akademi Tari Indonesia.

Maryono. 2015. Analisa Tari. Surakarta: ISI Press. Nisvi, Wahyu Laelatul.

_______, 2012.“Tari Dayakan Kelompok Satria Rimba Suatau Kajian Hermeneutika

H.G Gadamerâ€. Surakarta: Skripsi, ISI Surakarta, 2012.

NARASUMBER

Kastubi, 60 tahun, pemusik kesenian Raksasa, Desa Salamrejo RT 02 RW 01, Binangun, Blitar.

Sarto Slamet, 80 tahun, sesepuh dan dukun kesenian Dayakan desa Salamrejo RT 01 RW 04 , Binangun, Blitar.

Supiyanto, 65 tahun, sebagai warga masyarakat desa Salamrejo dan pengurus kesenian Dayakan. Desa Salamrejo RT 03 RW 01, Binangun, Blitar.

Supriyanto, 45 tahun, sebagai kepala desa di Desa Salamrejo. Desa Salamrejo RT 03 RW 01, Binangun, Blitar.

Yulius Eka Ari, 23 tahun, sebagai penari prajurit dalam kesenian Dayakan desa Salamrejo RT 01 RW 04 , Binangun, Blitar.