VOKAL DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA (Studi Kasus Kehadiran Kinanthi dalam Gending)

S., Suyoto, Timbul Haryono

Abstract


Dalam karawitan gaya Surakarta terdapat dua unsur penting, yaitu: instrumen dan vokal. Instrumen adalah sumber bunyi yang dapat menimbulkan nada-nada, sedangkan vokal adalah bunyi atau nadanada yang ditimbulkan dari suara manusia.Vokal dalam karawitan dimaksud antara lain: sindhènan, båwå, gerong, senggakan, dan alok, yang kehadirannya tidak lain untuk menambah indahnya sajian karawitan. Dalam vokal juga terdapat dua hal penting yaitu lagu dan teks. Kehadiran teks yang berujud bahasa itu biasanya dalam bentuk tembang atau cakepan yang lain. Kedudukan teks (cakepan) ada kalanya lebih penting dari instrument, atau setidaknya sejajar dengan instrument dalam perangkat
gamelan. Seperti misal pada karawitan agamis, keberadaan text adalah lebih penting daripada instrumen. Gending-gending yang menggunakan cakepan khusus, seperti gending karya Mangkunegara IV, yang semuanya tertata, mulai dari båwå sampai pada cakepan gérong.Teks yang digunakan dalam
gending tradisi pada umumnya dipilih dari beberapa alternatif karya sastra yang ada, artinya tidak ada keharusan, apalagi kemutlakan dalam penggunaannya, misalnya cakepan tertentu untuk gending tertentu. Hampir 90% teks Kinanthi diakses sebagai cakepan gerongan gending yang memiliki garap vokal. Penggunaan Kinanthi sebagai gérongan sudah barang tentu didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain: 1) Kinanthi terdiri 6 gatra,2) memiliki guru wilangan setiap gatra 8 suku kata, sehingga dengan gatra, guru wilangan yang genap akan lebih mudah penerapannya ke dalam gending. Selain Kinanthi sebagai cakepan gérong juga digunakan di dalam cakepan båwå, yaitu, båwå
Sekar Macapat Kinanthi Mintajiwa, laras slendro pathet manyura, båwå Sekar Macapat Kinanthi céngkok Sekar Gadhung, laras slendro pathet manyura. Kinanthi menjadi gending,yaitu:Kinanthi Sandhung, ketawang
laras slendro pathet manyura, Kinanthi Pawukir, ketawang laras slendro pathet manyura, dan Kinanthi Subakastawa, ketawang laras slendro pathet sanga.Sekar Kinanthi juga digunakan untuk ådå-ådå dalam wayang
purwa, untuk palaran dalam klenengan, untuk cakepan sindhènan dalam gending sekar.
Kata kunci: Kinanthi, båwå, gérong, dan gending.

Full Text:

PDF

References


Darsono. “Perkembangan Musikal Macapatâ€.

Surakarta: Laporan Penelitian S.T.S.I.

Surakarta, 1994.

Martopangrawit. Gendhing-Gendhing Santiswara

Jilid I dan II. Surakarta: ASKI Surakarta,

_____________. Pengetahuan Karawitan Jilid I dan

II. Surakarta: ASKI Surakarta, 1975.

_____________. Tetembangan, Surakarta: A.S.K.I.

Surakarta, 1967.

Pradjapangrawit, R.Ng. Serat Sejarah Utawi

Riwayating Gamelan Wedha pradangga.

Surakarta: STSI Surakarta dan The Ford

Foundation, 1990.

Rahayu Supanggah.â€Pokok-Pokok Pikiran

Tentang Garapâ€, Makalah diskusi dosen

Jurusan Karawitan di ASKI Surakarta,

__________________. Bothekan Karawitan I. Jakarta:

The Ford Foundation & Masyarakat Sèni

Pertunjukan Indonesia, 2002.

_________________. Bothekan Karawitan II. Jakarta:

The Ford Foundation & Masyarakat Sèni

Pertunjukan Indonesia, 2007.

RM. Soedarsono. Seni Pertunjukan Indonesia di Era

Globalisasi, edisi ketiga, Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press, 2002.

Serat Centhini Suluk Tambangraras Jilid II.

Kalatinaken Kamajaya. Yogyakarta:

Yayasan Centhini, 1986.

Sri Hastanto. Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa,

Surakarta, Program Pascasarjana bekerja

sama dengan ISI Press, 2009.

Sri Hastanto. “Gendhing: Parameter

Keseimbangan Hidupâ€, Pidato Dies

Natalis ASKI Surakarta XXII (Surakarta:

ASKI Surakarta, 1986).

Sugiyarto, A., et al. Gendhing-Gendhing Karya Ki

Nartosabda Jilid 4, Semarang

Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan, 1997.

_________, Kumpulan Gendhing-Gendhing Jawa

Karya Ki Nartosabda Jilid 3, Semarang

Proyek Pengembangan Kesenian dan

Kebudayaan, 1996/1997.

Sumarsam. Hayatan Gamelan Kedalaman Lagu, Teori,

dan Perspektif Surakarta: STSI Press, 2002.

________. Gamelan: Interaksi Budaya dan

Perkembangan Musikal di Jawa.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Suyoto. “ Bawa Gawan Kaitannya dengan

gendhing†Suatu Kajian Tekstual.

Surakarta: Laporan penelitian S.T.S.I.

Surakarta, 1996.

_______ “Sindhenan Gendhing Sekar Versi Sastro

Tugiyo†Surakarta: Laporan

Penelitian S.T.S.I Surakarta, 1992.

Timbul Haryono . “Peran Masyarakat Intelektual

dalam penyelamatan dan Pelestarian

Warisan Budaya Lokal†Teks pidato

ilmiah dalam rangka Dies Fakultas Ilmu

Budaya UGM ke-63 tanggal 3 Maret

Umar Kayam. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta:

Sinar Harapan, 1981.

Waluyo “Bawa Gawan gendhing Versi Sastro

Tugiyo†Surakarta: Laporan penelitian

STSI Surakarta, 1992.

Waridi. R.L. Martopangrawit Empu Karawitan Gaya

Surakarta. Yogyakarta: Penerbit

Mahavhira,




DOI: https://doi.org/10.33153/keteg.v15i1.2033

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Keteg



Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Tentang Bunyi.

ISSN 1412-2064
Published by Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta)
W: https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/keteg
E: keteg@isi-ska.ac.id

 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0