VOKAL DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA (Studi Kasus Kehadiran Kinanthi dalam Gending)
DOI:
https://doi.org/10.33153/keteg.v15i1.2033Abstract
Dalam karawitan gaya Surakarta terdapat dua unsur penting, yaitu: instrumen dan vokal. Instrumen adalah sumber bunyi yang dapat menimbulkan nada-nada, sedangkan vokal adalah bunyi atau nadanada yang ditimbulkan dari suara manusia.Vokal dalam karawitan dimaksud antara lain: sindhènan, båwå, gerong, senggakan, dan alok, yang kehadirannya tidak lain untuk menambah indahnya sajian karawitan. Dalam vokal juga terdapat dua hal penting yaitu lagu dan teks. Kehadiran teks yang berujud bahasa itu biasanya dalam bentuk tembang atau cakepan yang lain. Kedudukan teks (cakepan) ada kalanya lebih penting dari instrument, atau setidaknya sejajar dengan instrument dalam perangkatgamelan. Seperti misal pada karawitan agamis, keberadaan text adalah lebih penting daripada instrumen. Gending-gending yang menggunakan cakepan khusus, seperti gending karya Mangkunegara IV, yang semuanya tertata, mulai dari båwå sampai pada cakepan gérong.Teks yang digunakan dalamgending tradisi pada umumnya dipilih dari beberapa alternatif karya sastra yang ada, artinya tidak ada keharusan, apalagi kemutlakan dalam penggunaannya, misalnya cakepan tertentu untuk gending tertentu. Hampir 90% teks Kinanthi diakses sebagai cakepan gerongan gending yang memiliki garap vokal. Penggunaan Kinanthi sebagai gérongan sudah barang tentu didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain: 1) Kinanthi terdiri 6 gatra,2) memiliki guru wilangan setiap gatra 8 suku kata, sehingga dengan gatra, guru wilangan yang genap akan lebih mudah penerapannya ke dalam gending. Selain Kinanthi sebagai cakepan gérong juga digunakan di dalam cakepan båwå, yaitu, båwåSekar Macapat Kinanthi Mintajiwa, laras slendro pathet manyura, båwå Sekar Macapat Kinanthi céngkok Sekar Gadhung, laras slendro pathet manyura. Kinanthi menjadi gending,yaitu:Kinanthi Sandhung, ketawanglaras slendro pathet manyura, Kinanthi Pawukir, ketawang laras slendro pathet manyura, dan Kinanthi Subakastawa, ketawang laras slendro pathet sanga.Sekar Kinanthi juga digunakan untuk ådå-ådå dalam wayangpurwa, untuk palaran dalam klenengan, untuk cakepan sindhènan dalam gending sekar.Kata kunci: Kinanthi, båwå, gérong, dan gending.Downloads
References
Darsono. “Perkembangan Musikal Macapatâ€.
Surakarta: Laporan Penelitian S.T.S.I.
Surakarta, 1994.
Martopangrawit. Gendhing-Gendhing Santiswara
Jilid I dan II. Surakarta: ASKI Surakarta,
_____________. Pengetahuan Karawitan Jilid I dan
II. Surakarta: ASKI Surakarta, 1975.
_____________. Tetembangan, Surakarta: A.S.K.I.
Surakarta, 1967.
Pradjapangrawit, R.Ng. Serat Sejarah Utawi
Riwayating Gamelan Wedha pradangga.
Surakarta: STSI Surakarta dan The Ford
Foundation, 1990.
Rahayu Supanggah.â€Pokok-Pokok Pikiran
Tentang Garapâ€, Makalah diskusi dosen
Jurusan Karawitan di ASKI Surakarta,
__________________. Bothekan Karawitan I. Jakarta:
The Ford Foundation & Masyarakat Sèni
Pertunjukan Indonesia, 2002.
_________________. Bothekan Karawitan II. Jakarta:
The Ford Foundation & Masyarakat Sèni
Pertunjukan Indonesia, 2007.
RM. Soedarsono. Seni Pertunjukan Indonesia di Era
Globalisasi, edisi ketiga, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2002.
Serat Centhini Suluk Tambangraras Jilid II.
Kalatinaken Kamajaya. Yogyakarta:
Yayasan Centhini, 1986.
Sri Hastanto. Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa,
Surakarta, Program Pascasarjana bekerja
sama dengan ISI Press, 2009.
Sri Hastanto. “Gendhing: Parameter
Keseimbangan Hidupâ€, Pidato Dies
Natalis ASKI Surakarta XXII (Surakarta:
ASKI Surakarta, 1986).
Sugiyarto, A., et al. Gendhing-Gendhing Karya Ki
Nartosabda Jilid 4, Semarang
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1997.
_________, Kumpulan Gendhing-Gendhing Jawa
Karya Ki Nartosabda Jilid 3, Semarang
Proyek Pengembangan Kesenian dan
Kebudayaan, 1996/1997.
Sumarsam. Hayatan Gamelan Kedalaman Lagu, Teori,
dan Perspektif Surakarta: STSI Press, 2002.
________. Gamelan: Interaksi Budaya dan
Perkembangan Musikal di Jawa.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Suyoto. “ Bawa Gawan Kaitannya dengan
gendhing†Suatu Kajian Tekstual.
Surakarta: Laporan penelitian S.T.S.I.
Surakarta, 1996.
_______ “Sindhenan Gendhing Sekar Versi Sastro
Tugiyo†Surakarta: Laporan
Penelitian S.T.S.I Surakarta, 1992.
Timbul Haryono . “Peran Masyarakat Intelektual
dalam penyelamatan dan Pelestarian
Warisan Budaya Lokal†Teks pidato
ilmiah dalam rangka Dies Fakultas Ilmu
Budaya UGM ke-63 tanggal 3 Maret
Umar Kayam. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta:
Sinar Harapan, 1981.
Waluyo “Bawa Gawan gendhing Versi Sastro
Tugiyo†Surakarta: Laporan penelitian
STSI Surakarta, 1992.
Waridi. R.L. Martopangrawit Empu Karawitan Gaya
Surakarta. Yogyakarta: Penerbit
Mahavhira,