INTERPRETASI VOKALIS TERHADAP FRASA BALUNGAN CÉNGKOK MATI

Nanang Bayu Aji, Bambang Sunarto

Abstract


Tulisan ini mengungkap kasus frasa balungan céngkok mati di dalam karawitan gaya Surakarta. Permasalahan yang akan dipaparkan terkait interpretasi vokalis terhadap frasa balungan céngkok mati. Pengumpulan data diperoleh dengan cara studi pustaka, wawancara, dan juga laboratoris. Analisis dilakukan dengan cara menafsirkan kembali pemikiran serta pengalaman pêngrawit vokalis yang diperoleh melalui realitas pragmatik. Penafsiran menggunakan metode interpretasi dan analisis garap. Vokal dalam ensambel gamelan mempunyai cara untuk menginterpretasi frasa balungan céngkok mati. Interpretasi tersebut digunakan dalam rangka mengeksekusi frasa balungan céngkok mati dengan garap balungan céngkok mati. Hal tersebut dikarenakan tidak semua frasa balungan céngkok mati dieksekusi dengan garap balungan céngkok mati. Kehadiran vokal mempunyai peranan penting dalam karawitan, khususnya peranan terhadap gending dan garap gending. Peranan penting vokal dalam sajian karawitan tertentu memposisikan vokal menjadi lebih berwenang dalam menginterpretasi frasa balungan céngkok mati.

 

Kata kunci : vokalis, balungan céngkok mati,  interpretasi, peran, eksekusi


Keywords


vokalis; balungan céngkok mati; interpretasi; peran; eksekusi

Full Text:

PDF

References


Daladi, Suroso. 1968. “Karawitan Vokal.” Surakarta.

Darminto., Supangat., Subari. 2010. “Kamus Jawa Besar: Bausastra Jawa.” In . Kharisma.

Homsatun, Eka. 2014. “Analisis Semiotik Dalam Suluk Pakeliran Lakon Retno Sentiko Oleh Ki Seno

Nugroho.” Aditya 5.

Martapangrawit. 1972. “Pengetahuan Karawitan 1.” Surakarta.

———. 1975. “Pengetahuan Karawitan II.” Surakarta.

Purwanto, Joko. 2012. “Beberapa Unsur Pembentuk Estetika Karawitan Jawa Gaya Surakarta.” Gelar

Sosodoro, Bambang. 2006. “Bangunan Wacana Musikal Rebaban Gaya Surakarta.” ISI Surakarta.

———. 2015. “Mungguh Dalam Garap Karawitan Gaya Surakarta: Subjektifitas Pengrawit Dalam

Menginterpretasi Sebuah Teks Musikal.” Keteg 15.

Sugimin. 2015. “Garap Kebar Dalam Karawitan Jawa.” Acintya 7.

Sukamso. 2015. “Konvensi-Konvensi Dalam Pementasan Karawitan Klenengan Tradisi Gaya

Surakarta.” Keteg 15.

Sumarsam. 2003. Gamelan Interaksi Budaya Dan Perkembangan Musikal Di Jawa. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Supanggah, Rahayu. 2009. Bothekan Karawitan II: Garap. Surakarta: ISI Press.

Suraji. 1991. “Gendhing Beksan Dan Pahargyan.” In . STSI Surakarta.

———. 2005. “Sindhenan Gaya Surakarta.” Surakarta: Tesis Program Studi Pengkajian Seni Minat

Musik STSI Surakarta.

Suyoto. 2004. “Fleksibilitas Musikal Sulukan Gaya Surakarta.” Keteg 4.

———. 2015. “Vokal Dalam Karawitan Gaya Surakarta (Studi Kasus Kehadiran Kinanthi Dalam

Gending).” Keteg 15.

———. 2016. “Sukon Wulon Dalam Tembang Macapat: Studi Kasus Tembang Asmaradana.” Keteg :

Jurnal Pengetahuan, Pemikiran Dan Kajian Tentang “Bunyi” 16 (1).

Waridi. 2002. “Jineman Uler Kambang: Tinjauan Dari Berbagai Segi.” Dewa Ruci 1.




DOI: https://doi.org/10.33153/keteg.v21i1.3679

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Nanang Bayu Aji, Bambang Sunartoi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Tentang Bunyi.

ISSN 1412-2064
Published by Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta)
W: https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/keteg
E: keteg@isi-ska.ac.id

 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0